PustakaBersama: baca, pikir, bagi


6 perpustakaan
54903 buku

kata yang dicari


pencarian menurut


di perpustakaan


Yahoo Messenger: perpustakaan_freedom
Mohon maaf
Perpustakaan Filsafat UI
koleksinya dipindahkan
ke Perpustakaan
Universitas Indonesia

« Kembali ke Daftar Berita

Nasib perpustakaan di Tanah Air masih terpinggirkan. Sebagai salah satu basis yang menyangga peradaban, perpustakaan kerap dilalaikan. Tak heran, bila sumber daya manusia (SDM) Indonesia tertinggal jauh dengan bangsa lain. Sebab, negara-negara maju memandang perpustakaan sebagai salah satu aset kultural.

Kondisi itu tentu saja membuat beberapa tokoh yang pedulia akan nasib perpustakaan menjadi gundah. Terlebih, saat ini era teknologi informasi begitu dominan mencengkeram dunia. Persaingan antarnegara menjadi semakin ketat, dan untuk menghadapinya diperlukan SDM yang tangguh.

‘Salah satu elemen yang dapat menjawab tantangan zaman itu adalah tempat orang bisa mendapat ilmu dan berpikir, yakni perpusatakaan,’ ujar tokoh senior, Hassan Kartadjoemana. Menurutnya, kelalaian kultural yang telah dilakukan selama beberapa dasawarsa ini harus segera dijawab dengan menyediakan perpustakaan yang memadai.

Kamis (22/9) lalu, empat tokoh yang mewakili empat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pun melakukan terobosan baru. Diprakarsai Hassan Kartadjoemana, empat LSM yang terdiri dari Yayasan Aksara, Komunitas Utan Kayu, Freedom Institute dan CSIS meluncurkan sebuah perpustakaan digital yang diberi nama Pustakabersama.net dan menayang di www.pustakabersama.net.

Keempat LSM itu menggabungkan puluhan ribu koleksi bukunya pada satu situs web (web site). Menurut Hassan, perpustakaan yang ada di Tanah Air sudah seharusnya bersatu. Sebab, kata dia, kondisi di lapangan menunjukkan tidak ada satupun perpustakaan dan pusat informasi dan/atau dokumentasi yang mampu melayani pemakainya dengan hanya mengandalkan kemampuannya sendiri.

‘Harus bergabung. Jangan jalan sendiri-sendiri. Dengan begitu, kita bisa membuat jaringan international,’ paparnya. Pemenuhan kebutuhan dan tuntutan itu dapat terlaksana secara optimal bila dilakukan melalui kerjasama antarperpustakaan, pusat informasi dan/atau dokumentasi.

Tentu saja, kerjasama itu perlu disusun berdasarkan prinsip saling menolong, saling membutuhkan, dan saling memanfaatkan dalam mekanisme kerja yang jelas, transparan, dan sinergis dalam kesejajaran peran. Kerjasama tersebut akan menghasilkan apa yang disebut dengan Jaringan Informasi.

Gabungan jaringan perpustakaan yang didirikan empat LSM saja, imbuh Rizal Mallarangeng dari Freedom Institute, mampu menjadi jaringan perpustakaan ilmu sosial yang lengkap dan komprehensif di Indonesia. ‘Saat ini, jaringan ini mempunyai koleksi lebih dari 40 ribu buku,’ papar Rizal. Tentu saja, koleksi buku dari perpustakaan digital itu akan semakin banyak bila perpustakaan lain ikut bergabung.

Goenawan Mohammad dari Yayasan Utan Kayu tampaknya berharap banyak dari kelahiran jaringan perpustakaan ini. Menurutnya, dengan hadirnya sebuah perpustakaan yang besar dan memadai, maka berbagai persoalan bangsa yang dihadapi bisa ditangani. Sebab, hanya dengan SDM yang berkualitaslah bangsa ini bisa keluar dari berbagai lilitan masalah.

Wakil Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, pun menyatakan dukungannya terhadap lahirnya jaringan perpusatakaan digital itu. Perpusatakaan Daerah DKI Jakarta, imbuh dia, akan ambil bagian menjadi anggota jaringan perpustakaan bersama itu. ‘Kita akan segera bergabung,’ tandas Fauzi.

Dalam acara peluncuran Pustakabersama.net/ itu juga muncul gagasan untuk membentuk perpusatkaan publik di setiap kota. Para tokoh yang terdiri dari Nono Anwar Makarim, Rizal Mallarangeng, Goenawan Mohammad, Harry Tjan Silalahi dan Hassan Kartadjoemena, menggagas perlunya sebuah perpusatakaan publik yang nyaman dan bisa dijadikan tempat membaca keluarga.

‘Sampai sekarang, belum ada perpustakaan publik yang bisa dijadikan tempat belajar keluarga pada hari libur,’ papar Rizal. Dengan hadirnya sebuah perpustakaan publik yang nyaman dan menarik, minat baca masyarakat bisa terdongkrak. Bahkan, minta itu bisa menjadi semacam budaya yang mengakar.

Kehadiran Pustakabersama.net merupakan salah satu jalan untuk menggalakkan kebiasaan membaca, yakni dengan menghidupkan perpustakaan. Salah satu cara menghidupkan perpustakaan adalah melalui katalog gabungan yang mudah dicari, lengkap, dan interaktif. Dari satu katalog, setiap orang dapat menemukan bukunya ke berbagai perpustakaan, dan membaca komentar serta ulasan pembaca lain.