PustakaBersama: baca, pikir, bagi


6 perpustakaan
54903 buku

kata yang dicari


pencarian menurut


di perpustakaan


Yahoo Messenger: perpustakaan_freedom
Mohon maaf
Perpustakaan Filsafat UI
koleksinya dipindahkan
ke Perpustakaan
Universitas Indonesia

-->
Mohon maaf
Perpustakaan Utan Kayu
hanya dapat diakses oleh
Komunitas Utan Kayu


« Kembali ke Daftar Berita

Jakarta, Endonesia—Sepekan ini ada kabar menarik dari dunia pustaka dan perpustakaan. Yang satu adalah peluncuran jaringan informasi perpustakaan ilmu sosial, Pustaka Bersama, yang merupakan upaya menghimpun dan meng-online-kan koleksi perpustakaan empat lembaga penelitian dan LSM. Yang satu lagi adalah peluncuran portal informasi dan studi pertanian, Pustaka Tani. Didukung oleh Microsoft dan diotaki oleh IPB, Pustaka Tani dicita-citakan menjadi pusat community training and learning center bagi para petani di 7 daerah di Indonesia.

Meski sama-sama menyandang dua nama beraroma pustaka, esensi keduanya berbeda jauh. Pustaka Bersama ( www.pustakabersama.net ), menggunakan kata pustaka dalam makna ‘klasik’-nya: buku dan sebangsanya. Website ini men-satu-atap-kan katalog atau daftar koleksi empat perpustakaan ilmu sosial di Jakarta: Perpustakaan Aksara, Perpustakaan CSIS, Perpustakaan Freedom Institute, dan Perpustakaan Utan Kayu. Tak dijelaskan apakah koleksi yang konon jumlahnya mencapai 40.808 buku itu merupakan total koleksi keempatnya, ataukah baru sebagian.

Pustaka Bersama juga dikerjakan oleh manusia-manusia klasik: pustakawan. Di dunia perpustakaan, kerjaan semacam ini lazim dikenal dengan nama jaringan informasi perpustakaan, katalog bersama, interlibrary lending system, interlibrary loan system, dan sebagainya.

Sudah lama pustakawan bermimpi bisa menyatukan koleksinya. Sedari komputer belum hadir pun, mereka sudah memimpikannya. Ketika komputer atau PC datang, mereka pun sibuk menyeragamkan diri menggunakan software sumbangan UNESCO: CDS-ISIS, yang kemudian jadi WinISIS, ketika Windows muncul (UNESCO mungkin belum merilis Internet-ISIS). Sementara jaringan yang lain sibuk mengembang proprietary-software masing-masing, mulai dari jaringan yang bernuansa agama sampai jaringan berbasis dunia pendidikan dan profesi.

Mimpi para pustakawan itu adalah menghadirkan koleksi bersamanya secara online. Di masa pra internet, banyak yang sudah mencoba menyediakan akses via BBS (bulletin board system), yang sampai sekarang pun masih disediakan secara komersial dan ekslusif oleh beberapa media cetak di Jakarta (Catatan: BBS bukan semacam BBS atau forum diskusi ala PHP-BB dan sejenisnya, melainkan akses dial-up langsung ke server pangkalan data). Karena keterbatasan akses telekomunikasi, banyak proyek jaringan informasi yang mandeg.

Ketika akhirnya internet datang, kedatangannya ternyata tak banyak membantu. Bukannya jaringan informasi yang sudah ada langsung pindah ke internet (seperti yang sekarang dilakukan Pustaka Bersama), mereka justru makin tersuruk entah kemana. Tak percaya? Hitung saja sendiri berapa banyak website milik perpustakaan di Indonesia.

Persoalannya memang bukan perkara memindahkan katalog koleksi ke internet, tapi lebih penting lagi adalah apakah masih relevan upaya sharing semacam itu di zaman internet yang sudah kian maju ini? Apakah masih relevan ketika sekarang kebanyakan orang sudah kelewat akrab dengan search engine dan juga http://scholar.google.com plus http://print.google.com ?

Buat Indonesia, anggap sajalah masih relevan. Di tengah miskinnya konten made-in Indonesia di internet, tak ada salahnya para pustakawan menyumbang konten untuk menyemarakkan hasil search result di internet. Plus supaya pustakawan bisa mewujudkan mimpi lamanya, sembari siapa tahu Pustaka Bersama bisa lebih serius menyulap diri menjadi http://scholar.google.com dan http://print.google.com . Mimpi kali.

Boleh jadi itu memang cuma mimpi. Soalnya, sekarang ini Pustaka Bersama memang tampil serba minim. Lebih minim dari rak katalog klasik yang ada di perpustakaan. Anda hanya bisa men-search koleksi di sana. Anda tak bisa membrowse koleksi berdasarkan kategori.

Isi setiap item katalognya pun serba minim. Hanya ada deskripsi bibliografi yang serba singkat. Tak ada abstrak. Tak ada DDC atau UDC. Tak ada ISBN. Tak ada link otomatis ke karya pengarang yang sama. Dan super banyak tak ada lainnya yang mestinya sudah standard bagi orang perpustakaan.

Konsistensi data juga jadi soal serius buat Pustaka Bersama. Nama pengarang, misalnya, masih belepotan penulisannya. Contoh paling gampang dan praktis adalah nama almarhum Nurcholish Madjid. Pustaka Bersama masih tidak konsisten menuliskan nama beliau sebagai tajuk pengarang: ada yang pakai ‘h’ diakhir kata ‘Nurcholis’, ada juga yang tidak. Konsekuensi, kalau Anda mesti mencari koleksi karya Nurcholish Madjid, jangan sungkan untuk menggunakan keyword ‘Nurcholis’ dan ‘Nurcholish.

Tapi bagaimanapun, ya lumayanlah. Siapa tahu ini baru awal, dan minggu depan (bukan bulan depan atau tahun-tahun depan) Pustaka Bersama sudah berubah. Plus siapa tahu background image logo Freedom Institute pada koleksinya sendiri, yang menggangu-norak-dan-egois, juga bisa dihilangkan.

Endonesia.com Selasa, 27-September-2005, 04:28:43
Referensi: http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=725